Renungan " Bersyukur dan Bersyukur "

Benar kata Ralph Waldo Emerson, Usahawan sekaligus pemikir tenar Amerika. Jika bintang-bintang di langit hanya muncul sekali dalam seribu tahun, pasti manusia akan terpesona dan terkagum-kagum. Betapa manusia akan mengabadikan pengalaman itu untuk para anak cucunya. Tapi karena setiap malam keindahan itu dikirimkan kepada kita dan hal-hal yang mudah kita peroleh betapapun nilainya, kurang kita hargai. Padahal di balik hal-hal yang biasa atau peristiwa-peristiwa yang amat lumrah terjadi, terkadang terselip keajaiban-keajaiban. Seperti kejadian biasa yang saya temui hari ini. Selesai makan siang ketika berjalan di trotoar , saya mampir ke sebuah warung untuk membeli permen. Di balik kacamata gelapnya, pemuda penjaga toko amat simpatik dan ramah. Kami sempat ngobrol sejenak. Ketiksa saya berpamitan, pemuda tersebut berkata," Terima kasih Pak, Anda amat baik. Tak banyak orang lalu lalang yang masih mau ngobrol dengan orang buta seperti saya."

Dalam perjalanan pulang, melewati sebuah taman, saya melihat seorang anak gendut sehat, tampak bengong menyaksikan teman-temannya bermain dan bernyanyi." Lo, Dik. Kok tidak ikut main bersama teman-temannya di taman?" tanya saya. Anehnya, si anak diam saja sambil menatap saya. Belakangan saya tahu rupanya ia tuli. Kalau mengingat kata-kata Emerson di atas, rasanya kita memang selalu harus mengingat tiga hal dalam hidup ini. Yakni bersyukur, lalu bersyukur, dan bersyukur lagi.

Sumber : Intisari, Februari 2007

0 Response to "Renungan " Bersyukur dan Bersyukur ""

Post a Comment

Maaf komentar yang tidak relevan/spam akan saya hapus.