Renungan: Rantai Kasih

Di tengah hujan yang sedang, sebuah sedan mewah berhenti di pinggir jalan. Pengendaranya seorang wanita setengah tua berdiri di dekatnya. Di bawah payung wajahnya berkeringat karena panik. Jalanan sepi. Beberapa menit kemudian sebuah mobil pick up tua terengah-engah melintas. Lalu berhenti persis di depannya. Dari dalam keluar seorang lelaki muda berpakaian lusuh seperti montir. " Apa yang bisa saya bantu, Bu? Nama saya Joni." Bercampur rasa takut, curiga, dan khawatir, wanita tersebut mengutarakan masalahnya.

Tak lama problem teratasi. Ban belakang yang pecah, sudah diganti dengan ban serep. " Terima kasih Nak atas pertolonganmu, saya mesti bayar berapa sebagai balas jasa?" si wanita bertanya. Joni sama sekali tidak berpikir tentang uang, niatnya tulus, menolong sesama yang membutuhkan bantuan. "Maaf Bu, sebaiknya berikan saja uang itu nanti pada orang yang butuh pertolongan. Saat itu Ibu bisa mengingat saya." ujar Joni.

Singkat cerita, wanita tersebut melanjutkan perjalanan. Tengah hari ia mampir ke sebuah restoran kecil pinggir jalan. Meski sederhana, makanannya enak. Ia dilayani dengan sangat baik oleh seorang wanita muda yang sedang hamil tua. Dalam hatinya ia kasihan melihat pelayan tersebut masih bekerja keras dalam kondisi perut buncit. Sekelabat muncul bayangan si Joni, yang telah menolongnya. Ketika sang pelayan masuk untuk membereskan piring-piring, ia meninggalkan lima lembar uang seratus ribuan di bangku.

Sang pelayan terperanjat melihat uang di bangku tamunya yang telah pergi. Ia menemukan tulisan di kertas tisu." Terimalah uang ini. Jangan berpikir kamu berhutang budi padaku. Aku juga pernah ditolong orang, sama seperti yang kulakukan ini. Pesanku, jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.

Malam harinya si Pelayan tidak bisa tidur. Ia teringat tulisan tamunya. Bagaimana wanita itu bisa tahu kebutuhan hidupku? Ia sadar tiap hari suaminya bekerja keras mencari uang guna biaya persalinan bulan depan. Pemberian wanita tadi siang amat meringankan bebannya. Ia lalu mencium kening Sang Suami yang tidur disampingnya," Mas Joni, jangan khawatir lagi. Semuanya akan beres."

Sumber : Intisari, Januari 2007

0 Response to "Renungan: Rantai Kasih"

Post a Comment

Maaf komentar yang tidak relevan/spam akan saya hapus.