Cerita dari Silokek, Kabupaten Sijunjung


"...Tunggu jam 11.15 Wib di pertigaan ya, ntar ada yang jemput" suara Y di sebrang, menutup pembicaraan kami. Y menelpon dari kantor, ngajak pergi ke Objek Wisata Silokek, Kabupaten Sijunjung - Sumatera Barat; rame-rame bareng teman-temannya. Saya sanggupi toh ga ada lagi yang dikerjakan di rumah. Siap dzuhur, saya berangkat. Perumahan yang kami tempati berada agak ke dalam dari jalan raya lintas Sumatera. Saya yang ga bisa bawa motor, harus numpang ojek jika ingin keluar hingga pertigaan jalan raya lintas Sumatera; Soalnya jaraknya agak jauh kalau jalan kaki, sekitar 3 km. Di dekat pangkalan ojek, saya nunggu jemputan.
Sengaja datang lebih awal, risih rasanya kalau telat, trus harus ditungguin. Sekitar 20 menit kemudian, berhenti mobil Kijang pick-up warna hitam. Tadi pas ditelpon ga sempat nanya, mau dijemput pake apa. Jadi ngakak melihat mobil layaknya aquarium yang sesak oleh ikan. Isi mobil dipenuhi teman-teman Y, baik di belakang kemudi maupun di bak terbukanya. Tapi seru juga kali ya...naik rame-rame di belakang, tak perlu ac karena udah ada yang alami..... jadi hemat energi deh.


Untuk menuju Silokek, harus menyusuri pinggiran sungai yang cukup lebar. Kabarnya, sungai yang bernama Batang Kuantan ini, dulu sering digunakan untuk olahraga rafting. Bahkan, termasuk dalam daftar sungai favorit karena medannya cukup menantang. Tapi kini gaung arung jeram di tempat ini sudah tidak terdengar lagi. Yang jamak terlihat adalah aktitas penambang emas. Di sungai yang kini berair cukup keruh itu terkandung butiran-butiran emas yang mungkin manisnya cukup menjanjikan bagi penambang rakyat. Buktinya, setiap waktu makin bertambah jumlah para penambang. Perahu dengan suara mesin yang cukup bising terlihat di beberapa tempat.

Pohon karet milik penduduk berada di sepanjang jalan samping kiri. Penduduk lokal menyebutnya batang getah. Sementara, kanan jalan adalah sebuah tebing yang agak curam. Mobil dikemudikan hati-hati karena ruas jalan yang merupakan akses satu-satunya, tidak cukup lebar. Kondisi jalan yang rusak sering ditemui di beberapa titik. Papan pemberitahuan yang berbunyi: HATI-HATI JALAN BERLUBANG, tersebar di setiap sudut jalan yang rusak. Nah loh? Aneh... bukannya segera diperbaiki agar tidak menimbulkan korban, namun lubang-lubang dibiarkan begitu saja; dan pengemudi jalan tersebutlah yang harus waspada. Kalau jalannya rusak seharusnya pihak terkait segera menindaklanjuti dan bukan hanya mengingatkan supaya berhati-hati!

Beberapa kali kami juga terpaksa berhenti untuk berbagi jalan pada setiap mobil yang kebetulan berpapasan pada arah berlawanan. Kalau tidak waspada atau meleset sedikit saja efeknya tentu fatal. Hih...ngeri. Aku yang tidak bisa berenang jadi bergidik membayangkan kedalaman jurang dan arus sungai yang begitu deras.


Semakin ke dalam, perjalanan makin menyenangkan. Kengerian menjadi hilang manakala melihat pemandangan yang sangat menakjubkan dengan udara yang segar dari hutan sekitarnya. Kami berhenti sejenak, pada sebuah pinggiran sungai yang berpasir putih. Di tempat tersebut terdapat gua yang pintu masuknya persis menghadap jalan. Sedangkan di seberang sungai, terlihat pemandangan yang laksana lukisan. Bukit berbatu bagai dinding pemagar sungai. Tebing ini berwarna putih kehitaman, tinggi menjulang. Rencananya, kami akan makan siang di situ, tapi tidak jadi berhubung tak ada tempat untuk bersantai melepas lelah. Hingga seorang penjaja air mineral memberitahukan kepada kami tempat istirahat yang adem. Semua sepakat memutuskan menuju lokasi dengan berbekal informasi bahwa air terjun Durian Gadang tidak seberapa jauh, kira-kira hanya sekitar 3 km lagi.

Sempat nyasar dan berbalik arah sebab ternyata air terjun Durian Gadang tidak terlihat dari jalan. Untuk mencapai tempat itu, diharuskan trekking terlebih dahulu sejauh lebih kurang 500 m. Bagi pecinta olahraga trekking, tempat ini cukup layak untuk dicoba. Dengan semangat 45, rombongan kami mulai star menaiki bukit yang sentosa oleh pohon yang tumbuh subur di sana. Sekedar informasi, untuk yang bawa mobil ga perlu cemas masalah tempat parkir. Sebab di sekitar lokasi tersebut terdapat pelataran yang cukup memadai dan aman untuk parkir kendaraan.



Udara bercampur kelembaban air sudah mulai terasa setelah kami menempuh perjalanan sekitar 15 menit. Jalan setapak menuju air terjun itu hanya selebar kira-kira 1 meter. Jadi, harus ekstra hati-hati karena di samping kanan adalah sebuah jurang. Beberapa kali kami bertemu aliran sungai yang jernih. Kurang lebih 25 menit jalan kaki, suara curahan air mulai menyapa gendang telinga yang menandakan air terjun Durian Gadang tidak jauh lagi. Saya memperkirakan jarak antara jalan raya-air terjun Durian Gadang, lebih kurang 500 m. Air terjun telah di depan mata, membuat saya terpana dengan keelokannya. Pemandangannya begitu selaras dengan hutan di sekitarnya. Air terjun ini dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun. Namun sangat disayangkan, karena objek sebagus ini nampaknya tidak serius dalam pengelolaannya. Tidak terdapat fasilitas umum di sini. Juga jangan harap ada tempat peristirahatan yang memadai buat melepas lelah. Namun semua jadi terlupakan; ketika berendam dan merasakan segarnya air terjun Durian Gadang.

4 Responses to "Cerita dari Silokek, Kabupaten Sijunjung"

  1. ya, saya juga senang kalau ada yang nge post tempat yang indah dari negeri saya.
    tulisan yang bagus.

    ReplyDelete
  2. @ibung: Bener banget...banyak yang indah2 di negeri ini...sayangnya banyak obyek wisata indah tidak dikelola dengan baik...thx telah berkunjung..

    ReplyDelete
  3. masih banyak yang lebih bagus dri itu
    karna sijunjung adalah kota wisata
    kampuang ambo tu ma.....

    ReplyDelete
  4. Aq belum sempet mandi di goa yang ada aliran sungai bawah tanahnya..nyesel lho..entah kpan bsa k'sna lgi..

    ReplyDelete

Maaf komentar yang tidak relevan/spam akan saya hapus.