Tukang Gendong di Lubang Jepang, Bukittinggi

Selama 5 tahun diam di Sumatera Barat, sudah 2 kali saya pergi ke Kota Bukittinggi. Tetapi sekalipun, belum pernah memasuki obyek wisata Ngarai Sianok yang cukup terkenal. Setiap ada urusan yang mengharuskan pergi ke Bukittinggi selalu waktunya mepet. Belum ketemu kesempatan yang pas buat mengunjungi obyek wisata tersebut. Kali ini, berhubung Y ada keperluan ke Bukittinggi, saya ikut nebeng. Saya pikir ini adalah kesempatan, khusus melihat Ngarai Sianok, tanpa dibebani dengan keperluan lain. Berdua saja (tanpa si kecil), sekitar jam 07.00 pagi berangkat dari home (pondok kami di Padang Sibusuk Kabupaten Sijunjung).

Diantara dua alternative rute, yakni via Solok melalui Danau Singkarak – Padang Panjang – Bukittinggi; atau via Sawahlunto – Batusangkar – Bukittinggi; kami memutuskan pilih yang kedua karena banyak keuntungannya. Salah satunya menyingkat waktu dan bisa melihat obyek wisata lain yang terletak di sepanjang jalan yang kami lewati.

Obyek wisata yang pertama-tama disambangi adalah kebun binatang Kandi. Di Kandi, terdapat lumayan banyak koleksi satwa untuk ukuran taman satwa mini. Saya tertarik mendekati kandang orang utan. Kata petugas yang merawat, "si dia" adalah penghuni baru. Benar juga anggapan yang menyatakan kalau orang utan adalah salah satu primata cerdas. Saya tergelak, liat tingkahnya yang macam-macam. Lucunya lagi bisa-bisanya dia kepikir ngambil kertas bekas kantong semen buat nutupi kepalanya yang mungkin terasa panas oleh sinar matahari....Dua puluh menitan di situ, kami kembali ngelanjutin perjalanan.

Untung yang kedua, jalur yang kami lewati sepi. Satu dua truk masih ada sih, cuma masih bisa keitung dengan jari, tidak sebanyak kendaraan yang melintas di jalan raya Solok menuju Bukittingi. Enaknya lagi, bisa ngehirup udara seger. Jalannya tidak terlalu lebar tetapi bersih. Banyak pohon-pohon besar yang daunnya super rimbun, seperti kebanyakan jalan yang ada di Sumbar. Pemandangannyapun cukup OK. Coz kami pergi dengan berboncengan sepeda motor, jadinya gampang deh berhenti dan jepret sana sini. Melintas dengan kecepatan sedang agar bisa melepas pandangan pada sawah-sawah yang menghijau di kiri kanan jalan. Musim tanam telah tiba, terlihat beberapa kelompok petani mulai menanam batang-batang padi.

Cuaca saat itu tidak begitu cerah. Tidak hujan. Tapi, matahari malu-malu menampakkan diri dan hanya mengintip dari balik awan kelabu. Y sangat hati-hati mengendarai motor yang sedikit oleng, karena angin bertiup cukup kencang. Bahkan nekat menembus kulit yang telah saya balut dengan jaket berbahan drill..Brr..terasa dingin tapi sejuk. Udara segar di pagi hari membuat pernafasan menjadi lega. Lagi enak-enaknya menghirup oksigen yang segar, kesenangan saya sedikit terganggu manakala berbelok di salah satu tikungan. Alamak!... celaka dua belas, pada jarak sepuluh meter di depan kami merambat sebuah truk yang sarat muatan. Pertanda buruk. Untuk sekian detik, udara bercampur polusi terpaksa akan kami hirup tanpa terelakkan. Mana sepertinya agak susah menyalip truk, mengingat badan jalan yang sempit. Benar saja ketika jarak kami telah satu meter di belakang truk, debu menyeruak dari bagian bawah truk. Saya berusaha melindungi muka dengan menurunkan kaca helm rapat-rapat. Toh, nyatanya masih saja udara yang bercampur debu terhirup. Ugh sebel. Belum hilang rasa sebel saya, kembali kami dihadiahi bonus berupa gumpalan asap hitam tebal dari knalpot truk. Semprul. Untung akhirnya kami bisa melewati truk tersebut melalui usaha yang penuh perjuangan.


Kami memasuki Kota Batusangkar setelah sukses melewati truk. Sawah berjenjang-jenjang seperti bentuk sawah rice terrace yang terkenal di Pulau Bali, tersebar dimana-mana. Terlihat memukau karena berlatar belakang Gunung Merapi yang puncaknya ditutupi gumpalan awan.

Saya berhasil mengambil gambar Istano Basa atau lebih terkenal dengan Istana Pagaruyung dari pintu gerbang. Sepertinya obyek wisata andalan Kabupaten Tanah Datar ini belum sepenuhnya kembali dibuka untuk umum karena masih dalam tahap penyelesaian pembangunan, setelah luluh lantak akibat terbakar si jago merah pada 2007 silam. Menurut informasi yang beredar, Istana ini belum bisa dipastikan kapan pembangunanannya selesai, karena masih terkendala pengadaan kayu-kayu pada tiang-tiang utama Istana.

Didukung oleh udara yang dingin, perut saya lebih cepat keroncongan sebelum waktu makan siang tiba. Saya mempunyai niat untuk berhenti di sebuah restoran yang tidak jauh lagi. Namun batal masuk tatkala melihat restauran yang berada di tengah sawah ini, sesak karena kebanjiran pengunjung. Di halaman restoran banyak terparkir bus pariwisata yang membawa peserta tur makan siang. “ Pondok Flora Restaurant” memang tempat makan yang asyik. Saya pernah sekali mencoba makan siang di restoran tersebut. Selain menu-menu yang ditawarkan menggugah selera, tempatnya juga nyaman. Disediakan pondok-pondok kayu yang dibangun di atas kolam-kolam ikan. Tamu menyantap makanan dengan duduk lesehan.


Sekitar pukul 11.00 wib, kami tiba di Bukittinggi yang berudara sejuk. Kelar semua urusan Y, kami meluncur ke Taman Panorama. Ngarai Sianok yang masih berlatar gunung Merapi, berada di dalam Lingkungan Taman Panorama. Sungai membentang di lembah ngarai. Sewaktu kami mengabadikan pemandangan dengan kamera saku,tiba-tiba seekor monyet nangkring dan berpose di depan kamera. Jadilah sebuah gambar ngarai dengan model penghuni lokal tempat ini.

Selain wisata pemandangan, di sini kita juga disuguhi wisata sejarah. Entah mana yang sebenarnya dijadikan sebagai ikon, pemandangan ngarai atau sejarah sebuah lubang peninggalan Jepang yang terletak di sini. Sebab keduanya, sama-sama unik. Saling menjadi pelengkap satu sama lain dan menjadi daya tarik bagi wisatawan agar tidak melewati obyek wisata yang satu ini. Lubang Jepang semacam terowongan yang dibangun Jepang pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Beberapa pemandu freelance tampak sibuk menerangkan para tamu yang memakai jasa mereka, di depan pintu masuk terowongan. Kami berpapasan dengan serombongan pemuda ketika memasuki Lubang Jepang. Mereka didampingi salah satu pemandu wisata freelance yang siap mengantar dan menerangkan keadaan di dalam lubang. Saya menguntit mereka dari belakang. Biar sekalian bisa nguping sejarah lubang Jepang. Udara sedikit terasa pengap. Dengan penerangan lampu-lampu neon, kami bisa melihat banyak ruangan di dalam lubang. Terdapat beberapa ruangan seperti  bekas-bekas ruang penjara, dapur, pintu keluar emergency, barak-barak tentara, ruang amunisi dan lain-lain. Menurut si guide, nantinya ruang-ruang tersebut akan dialihfungsikan menjadi mini teater, cafe, toilet dll.


Puas berputar-putar di dalam Lubang Jepang kami memutuskan untuk pulang. Ketika memasuki lubang, kami menuruni tangga-tangga dan saat keluar kami harus menaiki tangga-tangga yang sama. Kaki terasa pegel ketika mendaki tangga yang lumayan tinggi dengan kemiringan hampir vertical ini. Tiba-tiba salah satu dari anggota rombongan remaja nyeletuk, “ Wah lumayan juga ya capeknya mendaki tangga – tangganya”.
"Oh Iyalah" sahut Bapak yang menjadi pemandu "… jumlah tangganya ada 132 anak tangga, kalau dulu sih ada tukang gendongnya, tapi sekarang udah meninggal" terang Bapak pemandu serius.
"Siapa??" kompak para pemuda ini bertanya dengan nada penasaran
Kalem si Bapak yang sudah setengan baya ini menjawab “ MBAH SURIP”

0 Response to "Tukang Gendong di Lubang Jepang, Bukittinggi"

Post a Comment

Maaf komentar yang tidak relevan/spam akan saya hapus.