Kukang, Si Mata Bulat yang Pemalu


kukang
Sudah menjadi kebiasaan, setiap matahari mulai condong ke barat para ibu-ibu di komplek saya berkumpul. Sekedar bercengkrama dan ngobrol ngalur ngidul. Seperti sore itu, kami ngerumpi di depan rumah Ibu Tri, tetangga kami. Tiba-tiba saya melihat sesuatu diantara ranting pohon jeruk bali. Sontak para ibu ini berdiri dan serempak melihat ke arah yang saya tunjuk.

"Pukang....Pukang!" teriak seorang ibu diikuti oleh yang lain. Saat dicoba ditangkap dengan tangan kosong, dengan galak satwa ini berusaha menggertak. Suaranya sedikit mirip dengan kera. Kami mundur beberapa langkah, dan memanggil salah seorang bapak yang berdiri tak jauh dari tempat kami berada. Untung saja pohon jeruk tempatnya bergelantung tidak begitu rimbun. Alhasil, Kukang berhasil ditangkap setelah terjadi kejar-kejaran sekitar 15 menitan. Kukang tersebut segera dimasukkan ke dalam kandang kecil bekas kandang burung. Kami sepakat menyerahkannya ke Taman Satwa Kandi, Sawahlunto, Sumatera Barat agar Kukang tersebut dapat dipelihara dengan layak

Baru sekali ini saya melihat primata jenis tersebut. Bentuknya lucu. Dengan mata bulat dan kulit kecoklatan, hampir menyerupai Kuskus. Pada dekade 90-an, saya sering mendapati Kuskus dijual bebas di sekitar jalan Malioboro, Yogyakarta. Di perempatan kantor pos, tepatnya di depan Gedung Agung. Kini saya tidak lagi mendapati para penjual Kuskus. Tak ubahnya Kukang, Kuskus termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi. Keberadaan satwa-satwa tersebut ditengarai hampir punah. Kukang atau dalam bahasa Latin Nycticebus Coucang dapat ditemukan di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Kukang juga biasa disebut dengan Malu-malu. Kebanyakan masyarakat di Sumatera Barat menyebutnya dengan Pukang. Satwa ini lebih sering menunduk untuk menyembunyikan wajahnya diantara dada hingga punggungnya saja yang terlihat. Kukang adalah jenis primata yang bergerak lambat dengan warna beragam, kelabu keputihan, kecoklatan dan kehitam-hitaman. Ciri lainnya, pada punggung Kukang terlihat garis berwarna kecoklatan yang melintang dari belakang hingga dahi. Pada bagian sekitar lingkaran mata juga dikelilingi oleh warna coklat dan keputih-putihan pada sebagian wajahnya.  Beratnya berkisar antara 0.375 - 0,9 kg. Panjang tubuh dewasa sekitar 19 - 30 cm.

Menurut beberapa sumber, badan Konservasi dunia atau IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan Kukang dalam status vulnerable (rentan), yang artinya memiliki peluang untuk punah 10% dalam waktu 100 tahun. Sebelumnya CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora)  dalam status appendix II yang berarti Kukang diperbolehkan untuk diperdagangkan secara internasional, termasuk penangkapannya dari alam. Tetapi semenjak tahun 2007 CITES memasukkannya ke dalam appendix I yang berarti perdagangan kukang tidak boleh lagi dari hasil penangkapan dari alam, melainkan harus dari hasil penangkaran.

Kukang biasa memakan serangga kecil, telur burung, sayur-sayuran dan buah-buahan. Buah pepaya dan pisang adalah buah yang disenangi oleh Kukang. Kukang adalah satwa poligami dan berkembang biak sepanjang tahun. Masa kehamilannya sekitar 190 hari.

Kini, di Taman Satwa Kandi terdapat 3 ekor Kukang. Gambar di atas adalah salah satu Kukang yang ada di Taman Safari Mini tersebut. Tapi saya tidak bisa memastikan apakah Kukang tersebut adalah yang kami serahkan di tempat itu setahun yang lalu....

0 Response to "Kukang, Si Mata Bulat yang Pemalu"

Post a Comment

Maaf komentar yang tidak relevan/spam akan saya hapus.